shinegreen

Afnan (Gadis kecil yang shalihah)

In Al Islam on Maret 12, 2009 at 4:35 pm

Oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair

Aku akan meriwayatkan kepada Anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan Anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya. Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:

Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat mimpi didalam sebuah tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tesebut tardapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh tinggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tesebut adalah anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara aku pun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersbut.

Setelah aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata ia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan celana pendek, dan dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia akan mengenakan celana panjang dibalik rok tesebut.

Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah, setelah ia menduduki kelas empat SD, ia semakin jauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ketempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimahan. Dia adalah seorang gadis yang berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu atasnya, menjaga sholat-sholatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah.dia tidak pernah melihat suatu kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma’ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya (jilbab syar’i nya).

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.

Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:

Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa memperkerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata, “Wahai ummi, bagaiman dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mecuci piring-pirirng kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah dan merawat kalian 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!”

Aku tidak mempedulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu sangat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata, “Mama, aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang sering mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam.” Maka aku pun sangat gembira mendengar kabar baik ini.

Saat Afnan duduk dikelas tiga SMP, pamannya meminta hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.

Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihat kecantikannya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, “Siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?”

Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan treserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata,“Sakit ringan kakiku”. Sebulan setelah itu dia menjadi pincang saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab,” Sakit ringan, akan segera hilang insyaAllah.” Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kami pun membawanya ke rumah sakit.

Selesailah pemeriksaan, dan diagnosa yang sudah semestinya. Didalam salah satu ruangan rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangssaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula saat itu seorang penerjemah, dan seorang yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.

Dokter mengabarkan kepada kami bahwa afnan terserang kanker di kakinya. Dan dia akan memberikan tiga suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Aku terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat gembira dan berkata,”Alhamdulillah..Alhamdulillah..Alhamdulillah..” Aku mendekatkan dia didadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata,”Wahai ummi, Alhamdulillah, musibah ini menimpaku, bukan menimpa agamaku.” Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!

Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjemah dan para perawat, mereka pun menyatakan keislamannya!!

Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah. Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Dia pun menolak dengan keras. Aku coba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya. Akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata,”Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurnya setiap helai rambut dikepalaku.”

Kami (aku,, suamiku, dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya bekeja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya,”Apakah engkau seorang muslimah?” Dia mejawab, ”Bukan.” Afnan meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju kesebuah kamar yang kosong. Dokter wanita itu membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorang pun mengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk islam melalui tangannya.

Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengaputasi kakinya, karena dikhawatikan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orang tuanya.

Pada suatu hari Afnan bebicara dengan salah satu temanku melalui messenger. Afnan bertanya kepadanya, “Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?” Maka dia mencoba untuk menenangakannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untuk memasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat, “Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna.“ Temanku tersebut berkata, “Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan, aku tidak memahamin sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, seakan pikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana dia akan mati.”

Kami kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kangker telah menyerang paru-paru!! Keadaannya sungguh membuat putus asa, mereka meletakkannya di atas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka ia kan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.

Di rumah sakit terdengar suara adzan. Keadaan Afnan seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat, dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu dan shalat, tanpa ada seorang pun yang membangunkannya!!

Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi dia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.

Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya. Pada suatu hari istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa ia di kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Aku pun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi ia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, aku pun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata,”Ummi, kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat.” Kukatakan,”Mimpi yang baik insyaAllah.” Dia berkata,”Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau dan keluargaku, kalian semua berada di sekelilingku. Semua berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau, ummi.” Aku pun bertanya kepadanya,”Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut?” Dia menjawab,”Aku menyangka bahwasanya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia, kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku dan bersedih atas perpisahanku.”

Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, aku bersedih atasnya.

Pada suatu hari aku duduk dekat dekat dengan Afnan,aku dan ibuku. Saat itu Afnan terbaring di atas ranjangnya, kemudian dia terbangun. Dia berkata,”Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu.” Maka dia pun menciumku. Kemudian dia berkata,”Aku ingin mencium pipimu yang kedua.” Aku pun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya,”Afnan, ucapkanlah laa ilaaha illallah.” Maka dia berkata,”asyhadu alla ilaaha illallah.” kemudian dia menghadapkan wajah ke arah kiblat dan berkata,”asyhadu allaa ilaaha ilallah.” Dia mengucapkannya sebanyak sepuluh kali. kemudian dia berkata,”asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah.” dan keluarlah rohnya.

Kamar tempat ia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kasturi selama empat hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka mereka pun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma afnan. dan tidaka ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

(Dikutip dari majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: