shinegreen

Etika dalam berbicara

In Al Islam on Maret 12, 2009 at 4:08 pm

Keliatannya sih enteng, tapi kenyataannya ga segampang yang kita anggap. Ngluarinnya pasti ga butuh energi lebih deh, tapi kalo salah akibatnya bisa parah bangets. Lw semua pasti dah pada tw, sekedar ngomong doank tapi ga merhatiin patokan sama rambu-rambu yang ada, tu orang pasti bakalan celaka.

Dari kebanyakan yang sering terjadi, salah satu sebab kericuhan pun pasti tu omongan ga di jaga. Gak usah jauh-jauh deh, lw semua dah pada tw tawuran kan, ato diantara lw ada yang pernah ikut. Tu tawuran salahsatu penyebabnya pasti karena omongan lw kaga di jaga. Tapi yang lebih penting, ga sedikit cuma karena omongan, hak-hak Alloh terabaikan?

Makanya ga heran kalo kemudian Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam menuturkan,

“Barangsiapa yang mampu apa yang berada diantara dua janggut (lisan) dan kedua kakinya (kemaluan) maka aku akan menanggung baginya surga.” (Riwayat Al-Bukhori)

Dari hadits di atas Rosululloh ngasuh tw kita, kalo lisan punya peranan penting dan sangat diperhariin dalam syari’at ini, termasuk setiap ucapan yang dikeluarkannya. Ya, ngomong emang gampang, namun gimana kita mengupayakan dengan ngoming tersebut kita dapat mengambil manfaat yang ganda. Ngomong yang bermanfaat tidak nenyelisihi syari’at sekaligus meuai pahala dari Yang Maha Kuasa. Tentunya untuk mencapai hal itu tidak mudah, ada beberapa hal yang musti kita diperhatiin:

Selalu Berbicara Dalam Kebaikan

Alloh Subhanu Wata’alaa berfirman,

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisaa: 114)

Pada dasarnya, gak ada satu kebaikan pun pada ucapan sesorang, kecuali mereka yang memerintahkan manusia untuk berbuat baik, memberi sedekah dan mendamaikan pertikaian manusia. Bahkan lw ngomong yang baik disini jadi tolak ukur kesempurnaan iamn seseorang.

Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam pernah melansir dalm sebuah sabdanya,

“barangsiapa yang berimankepda Alloh dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya dan baragsipa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik atau diam.” (Riwayat Al-Bukhori dan Muslim)

Ninggalin Omongan yang Gak Berguna

Muslim sempurna adalah mereka yang ngerti dan melaksanakan tatanan syari’at. Namun sangat disayangkan, banyak banget dari kita yang emalalikannya bahkan ganggap remeh akan hal ini.

Mestinya, yang selalu terpatri dalam benak kita adalah hendaknya berupaya melakukan hal-hal yang bermanfaat saja, termasuk dalam bebicara.

Suatu kali Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam pernah menyatakan,

“termasuk tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)

Hindari Debat dabat dan Perbedaan

Ketika ngomong dengan orang lain, yang mesti kita perhatikan adalah volume suara dibuat sedang. Maksudnya adalah volume berbicara gak terlalu keras dan tidak pula terlalu lemah,

Ungkapan yang keluarpu jelas, dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksakan.

Tidak Berbicara dengan Segala Hal yang Didengar

Sahabat mulia Abu Hurairoh di dalam haditsnya menuturkan, Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam telah bersabda,

“Cukupalh menjadi suatu dosa bagi seseorang yang apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” (Riwayat Muslim)

Menhindari Perdebatan dan Saling Membantah

Seklalipun lw berada dipihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam telah bersabda,

“Aku adalah penjamin sebuah istana disurga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (pedebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana ditengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda (Riwayat Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

Tenang Dalam Berbicara dan Tidak Tergesa-gesa

Aisyah pernah menuturkan,

“Sesungguhnya Nabi sollallohu alaihi wasallam apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitingnya, niscaya ia dapat menghitungya.” (Mutta-faq’alaih)

Maksudnya adalah bahwa Rosululloh sangat tenang dan pelan dalam pembicaraan.

Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam telah bersabda,

“Seseorang mu’min itu bukanlah pencela, pengutuk atau keji pembicaraanya.” (Riwayat Al-Bukhori di dalam Al-Adab Mufrod, dan dishohihkan oleh Al-Albani)

Gak Banyak Ngomong dan Maksain Diri

Di dalam hadits disebutkan,

“Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak berbicara, orang yang pura-pura fasih dan orang-orang yang mutafahiqun.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, apa arti mutafahiqun? Nabi menjawab: “orang-orang yang sombong.” (Riwayat At-Tirmidzi, dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

Menghindari Perbuatan Menggunjing (Ghibah) dan Mengadu domba

Alloh Subhanu Wata’alaa berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurot: 12)

Mendengarkan Pembicaraan Orang Lain dan Tidak Memotongnya

Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam telah bersabda,

“Apabila kamu mengadakan pembicaraan dengan manusia, maka diamlah selagi mereka ssedang berbicara……” (Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shohih, Ash-Shahihah Syaikh Al-Albani no. 170)

“Di dalam hadits diatas terdapat peringatan agar kita senantiasa menjunjung adab di dalam berbicara dan omongan, yaitu gak boleh memotong pembicaraan orang lain. Siapa pun dia, darus diam ketika orang lain bicara hingga lawan bicara menuntaskan omongannya.” Sebagaimana penjelasan Syaikh Al-Albani dalam kitab beliau. Juga termasuk dalam hal ini adalah tidak menampakan kalo lw mengetahui apa yang dibicarakannya. Tidak menganggap rendah atau mendustakannya,

Jangan Memonopoli Dalam Berbicara

Yang sering terjadi adalah ketika sesorang berbicara, dia tidak sadar bahwa lawan bicaranya juga memiliki hak untuk berbicara. Karenanya, berikanah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.

Menghindari Perkataan Kasar

Hendaknya menghindari ucapan keras da yang menyakiti perasaan orang lain. Pun berusaha untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan, dan pertentangan.

Tidak Mengejek, Memperolok-olok dan Memandang Rendah Orang yang Berbicara

Alloh Subhanu Wata’alaa berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriamn, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan), lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan).”

(Al-Hujurot: 11)

Begitu indahnya syariat ini, yang telah memberlakukan etika dalam segala aspek dan sisi kehidupan. Yang tertinggal ini maukan kita mempercanti sikap dengan hiasan indah tersebut? Tentunya dengan niatan menjalankan syariat Alloh, kita memiliki asa bahwa setiap pembicaraan yang kita lakukan tidak sia-sia dan bermakna didalam catatan amal kebaikan.

Kareannya, jadikanlah setiap ucapan yang meluncur dari lisan ini sebagai suatu kebaikan dan tersusun rapi dalam tatanan syariat suci.

Allohul Musta’an

Sumber: Majah El-Fata, Edisi 9 volume 06 2006. dengan beberapa perubahan kata dan kalimat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: