shinegreen

Ummu Sulaim Rodiallohuanha

In Al Islam on Maret 12, 2009 at 4:37 pm

Ummu Sulaim Rodiallohuanha (Ibunda Anas bin Malik)

Pemilik mahar termulia dan malam yang diberkahi

Rosululloh sollallohu alaihi wasallam bersabda: Ketika aku memasuki surga, aku medengar suara langkah kaki, lalu aku bertanya: “siapa itu?” Malaikat menjawab: “Itu Ghumaisho’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim: 4494)

Nama aslinya adalah Ghumaisho’ dan juga dipanggil Rumaisho’ binti Milhan dari kaum Anshor, atau yang lebih dekenal kuniyahnya Ummu Sulaim Rodiallohuanha. Ia adalah sosok yang selalu dekat dengan Rosululloh sollallohu alaihi wasallam.

Sungguh besar rasa Ghibthoh (Perasaan iri kepada orang lain dalam berbuat kebaikan dan amal sholih. Iri seperti ini dibolehkan dalam agama. (Lihat Shohih Bukhori hadits no. 73 dalam kitabul ‘ilmi)) Ghumaisho’ binti Milhan saat melihat orang-orang meyambut kedatang Rosululloh sollallohu alaihi wasallam saat yang hijrah dari Makkah tiba di Madinah.Mereka menemui beliau dengan membawa hadiah sebagai ucapan selamat datang. Ia berfikir apa yang akan ia hadiahkan kepada Nabi sollallohu alaihi wasallam, sedangkan ia idak memiliki harta yang dapa dihadiahkan, sebab ia hanya seorang janda miskin yang ditinggal mati suaminya. Suaminya hanya meninggalkan untuknya seorang putra,….sampai di sini pikiran Ghumaisho’ tersentak, sadar bahwa ia memiliki sesuatu yang sangat berharga. Ya, …seorang putra! Ia berpikir mengapa tidak ia hadiahkan saja putranya, Anas, yang sedari kecil telah Rosululloh sollallohu alaihi wasallam talqinkan dua kalimat syahadat kepadanya, sehingga membuat suaminya, Malik biin Nadhor, yang musyrik menjadi marah dan menghardiknya (seraya berkata): “Jangan engkkau hancurkan kehidupan anakku!” Ummu sulaim membnatah: “Justru sebaliknya, saya akan menyelamtkannya.” Sejak saat itulah suaminya pergi meninggalkannya sampai ia meninggal di negri Syam.

Dengan menggandeng Anas kecil, Ummu sulaim menuju kediaman Nabi sollallohu alaihi wasallam. Tatkala bertemu Rosululloh sollallohu alaihi wasallam, Ummu sulaim megucapkan salam dan ucapan selamt datang, lalu ia berkata: “Wahai Rosululloh, semua orang Anshor, laki-laki dan perempuan telah memberimu hadiah, sedangkan aku tidak mempunyai sesuatu yang berharga untuk kuhadiahkan kepadamu selain putraku ini. Ambilah ia menjadi pelayanmmu.”

Rosullulloh sollallohu alaihi wasallam memnadang anas dengan penuh kasih sayang dan dengan lembut sembari mengelus rambutnya. Beliau menerima Anas yang baru berumur sepuluh tahun itu dengan gembira.

Sebagi janda yang cantik, cerdas dan baik akhlaqnya, tidak heran bila Ummu Sulaim menjadi janda kembang yang menjadi incaran para lelaki. Abu Tholhan (Zaid bin Sahal) mendangar bahwa Ummu Sulaim telah menjadi janda, ia langsung medatanginya untuk melamar menjadi istri. Ia khawatir ada orang lain yang medahuluinya. Namun, impiannya untuk menjadikan sebagai istri melayang terbawa angan-angan. Ia yakin Ummu Sulaim tak akan menolaknya karena ia adalh seorang bangsawan yang kaya raya, disamping itu ia juga seorang kesatria yang mumpuni dan ahli memanah. Dengan tekat yang bulat, Abu Tholhan menemui Ummu Sulaim di rumahnya, lalu denga sopan ia meminta izi masuk. Di rumah itu ia disambut oleh Ummu Sulaim dan putranya, Anas. Tidak lama setelah itu, ia langsung mengajukan lamaran, lantas Ummu Sulaimpun menjawab: “Orang sepertimu tak mungki ditolak, hanya saja saya tidak boleh menikah dengan orang kafir.” Abu Tholhah mengira bahawa Ummu Sulaim hanya mencari alasan saja dan telah ada lelaki lain yang lebih kaya atau lebih terhormat darinya yang lebih dahulu melamarnya. Lalu ia berkata kepadanya: “Apa alasanmu tidak menerima pinanganku? Apa kamu ingin emas dan perak?” Ummu Sulaim bertanya keheranan: “Emas dan perak?” Abu Tholhah menjawab: “Benar”. Ummu Sulaim berkata: “Sama sekali bukan karena itu. Demi Alloh, jika engkau mau masuk Islam maka aku rela menjadi istrimu, dan ke-islamanmu menjadi mahar bagiku, bukan emas dan perak.” Ketika mendengar ucapan Ummu sulaim, seketika itu Abu Tholhah teringat berhalanya yang terbuat dari kayu yang biasa ia sembah di rumah. Ummu Sulaim tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, lantas ia berkata: ”Wahai Abu Tholhah, apakah engkau tidak tahu bahwa sesembahan selain Alloh itu hanyalah sebatang kayu yang engkau jadikan sebagai ilah, sedang orang lain menjadikannya sebagai kayu bakar untuk menghangatkan badan atau untuk memasak roti. Wahai Abu Tholhah jika engkau masuk islam, aku akan rela menjadi istrimu dan aku tidak menginginkan mahar selainnya.” Abu Tholhah terdiam sejenak, lalu menjawab: ”Bagaimana caranya?” Ia menjawab: “Dengan mengucapkan: Asyhadu Allaa ilaaha illalloh wa Anna Muhammadan Rosululloh.” Dengan dua kalimat syahadat itulah, akhirnya Abu Tholhah menikahi Ummu Sulaim, yang mana tak ada mahar yang paling mulia dari mahar Ummu sulaim.

Rumah Ummu sulaim satu-satunya tempat yang dimasuki Nabi sollallohu alaihi wasallam selain rumah istri-istri belaiu. Pernah ditanaya kepada Rosululloh sollallohu alaihi wasallam mengapa sering berkunjung kepada rumah Ummu Sulaim, maka beliau menjawab: “Aku kasihan kepadanya karena saudaranya (Harom bin Milhan Yang terbunuh di sumur Ma’unah) terbunuh bersamaku”.

Suatu kali, ketika ia datang berkunjung, beliau melihat putra Abu Tholhah yang bergelar Abu Umair besedih sedang bersedih. Lantas beliau bertanya kepada Ummu Sulaim: “Mengapa Abu umair bermuka masam?” Ummu Sulaim menjawab: “Karena burungnya yang bernama Nughoir mati.”

Kemudian Rosululloh sollallohu alaihi wasallam, meneminya dan berkata: “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada Nughoir?” (Dalam pertanyaan Rosululloh sollallohu alaihi wasallam kepada Abu Umair ini terdapat penjelasan bagi kita tentang bagaimana sifat kasi sayang Rosululloh sollallohu alaihi wasallam. Beliau juga manusia yang paling mulia yang bercengkrama dengan anak-anak. Lalu bagaimana dengan kita?)

Setelah kejadian itu, Abu Umair jatu sakit. Ketika Abu Tholhah tidak dirumah anak kesayangnya itu meninggal. Kemudian Ummu Sulaim memandikan dan mengafaninya, lalu menutupinya dengan kain. Kemudian berkata kepada keluarganya: “Jangan kalian beritahu kepada Abu Tholhah, biar aku sendiri yang mengabarinya.”

Ketika Abu Tholhah datang, Ummu Sulaim memakai wewangian dan berhias, lalu menghidangkan makan malam. Setelah makan, Abu Tholhah bertanya kepada Ummu Sulaim: “Bagaimana keadaan Abu Umair?” Ia menjawab: “Ia telah tengan sekarang.” setelah itu Abu Tholhah menggauli istrinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Tholhah, bagaimana pendapatmu bila satu keluarga dipinjami sebuah titipan, lalu pemiliknya memintanya kembali, apakah mereka harus mengembaliknnya atau mempertahankan?” Abu Tholhah menjawab: “Meraka harus mengembalikannya.” Ummu sulaim berkata: “Abu Umair telh meninggal, maka bersabarlah.” Dengan marah Abu Tholhah menghadap Rosululloh sollallohu alaihi wasallam berkata: “Semoga Alloh memberkahi malam kalian. ”Setelah itu Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Kemudian Anas membawanya kepada Rosululloh sollallohu alaihi wasallam, lalu Rosululloh sollallohu alaihi wasallam mentahniknya denga kurma, dan dengan lahapnya bayi itu mengulum kurma yang dimasukan kemulutnya.

Rosululloh sollallohu alaihi wasallam berkata: “Perhatikanlah, bagaimana sukanya kaum anshor terhadap kurma.” Beliau kemudian menamainya Abdulloh, dan tidak ada generasi anshor yang lebih bagus darinya. Dairiwayatkan bahwa Abdulloh bin Tholhah mempunya tujuh orang anak laki-laki yang semuanya hafal Al Quran.

Dalam hal keberanian, Ummu Sulaim juga memiliki peran yang sangat mengagumkan. Ketika terjadi perang Hunain, ia keluar membawa sebilah belati. Lalu Abu Tholhah mengadukan kepada Rosululloh sollallohu alaihi wasallam: Ya Nabi sollallohu alaihi wasallam Ummu Sulaim membawa belati.” Mendengar hal itu, Ummu Sulaim langsung berdalih: “Wahai Rosululloh sollallohu alaihi wasallam, aku membawanya bila ada orang musyrik yang mendekatiku, maka aku akan membelah isi perutnya.”

Semoga Alloh Subhanahuwata’alaa meridhoi Ummu Sulaim, Ghumaisho’ binti Milhan Rodiallohuanha.

Referensi:

Siyaru A’laamin Nubalaa

Al-ishobah fi Ma’rifat Ash-haab

Sifatus Shofwah

Suwarun min Hayaat ash-shohaabah

Sumber: Majalah Al-Mawaddah, edisi ke-4, tahun ke-2, Dzulqo’dah 1429, November 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: